Mantab Corner

Aku bekerja di sebuah toko serba ada di wilayah Lenteng Agung. Selain aku, di toko tersebut masih ada 4 pekerja lagi. Tiga di antaranya perempuan, Ana 19 tahun, Lina 24 tahun, dan Tina 18 tahun. Dan seorang lagi laki-laki, Agung 19 tahun. Aku yang tertua di antara mereka. Karena itu mereka semua memanggilku Mas. Tina baru masuk kerja sekitar sebulan yang lalu. Dia orang Sunda. Kulitnya putih bersih dan wajahnya sangat manis khas Sunda. Sejak pertama kali masuk aku memang mengagumi kecantikannya. Tina tubuhnya mungil, tingginya sekitar 155-an cm tapi ramping. Beratnya aku taksir 40-an kg. Toko ini menjadi ceria sejak Tina kerja di sini, karena Tina orangnya ramai. Aku memanggilnya gadis kecil. Hampir setiap hari aku menggodanya. Dan setiap aku goda dia selalu tersenyum. Tentu itu sangat memuaskan ego laki-lakiku. Jika sedang membantu mengangkatkan barang aku sering ambil kesempatan memegang tangannya dan dia tidak menolak. Pernah karena terlalu lama aku pegang tangannya sampai dia terdiam dan menatapku. Kami bertatapan. Tina mulai terlihat pura-pura marah. Akhirnya aku lepaskan. Aku juga sering mengajak Tina main ke kosku sehabis pulang kerja. Jika di kos kami suka gobrol berlama-lama sambil bercanda. Pernah saking jauhnya bercanda, habis aku keluar dari kamar mandi, aku sekap matanya dari belakang. Dia minta dilepaskan. Akhirnya aku lepaskan. Tapi aku tidak benar-benar melepaskan, karena tanganku pindah memeluk tubuhnya dari belakang pas di bagian perutnya. Tina berontak minta dilepaskan. Aku lepaskan lagi. Tapi kemudian tanganku pindah ke atas sehingga menggenggam payudaranya.

“Ih kamu nakal”. Dia berusaha melepaskan tanganku.

Tapi aku tidak mau melepaskan. Malah aku remas-remas payudaranya. Lama-lama justru tangan Tina melelepaskan tanganku dan tidak berusahan menolak tanganku lagi. Tina mendesis. Tangannya malah meraih kepalaku di belakang kepalannya. Dan wajahnya berusaha menoleh ke belakang. Pas ketika wajahnya ada di depan wajahku aku langsung mengecup dan mengulum bibirnya. Tubuh Tina gemetar. Aku baringkan tubuh Tina yang sudah lemas ke kasur. Aku tindih, aku gesek-gesek selangkangannya dengan selangkanganku. Aku gesek-gesek dadanya dengan dadaku. Sambil bibirku terus melumat bibirnya. Kami bergulingan di kasur sampai kurang lebih 5 menit, bergumul, bergulat, saling tindih, dan saling merengkuh. Setelah itu aku melepaskan pelukanku. Rambut dan pakaian Tina acak-acakan. Aku duduk. Aku tarik tangan Tina agar bangkit. Setelah aku lumat lagi bibirnya, Tina pamitan pulang. Pas ketika dia mau membuka pintu aku panggil namanya, “Tina…” Dia menoleh. Ketika menoleh dia kaget karena aku telah ada di belakangnya. Dan aku langsung mengulum bibirnya lagi. Sambil setengah kaget dia membalasnya.

“Emhhhh…. udah-udah, nanti Tina gak jadi pulang.”

Begitulah hari-hariku dengan Tina. Aku sering memeluk dan menciumnya jika sedang sendirian. Baik di kos, di toko, di jalan, atau di tempat-tempat lain. Aku tidak tahu apakah teman-teman yang lain mengetahui ini semua atau tidak. Tapi kami tidak pernah melakukannya di depan mereka. Dan setahuku belum pernah kepergok.

Ketika malam minggu aku mengajak Tina jalan-jalan. Kami nonton film. Sepanjang film aku selalu meremas tangannya sambil sesekali mencium pipinya. Kami pulang sekitar jam 10 malam dan langsung ke kosku. Aku bilang ke Tina nanti aku antar ke kosnya pakai motor. Sampai di kos, setelah cuci muka, kami duduk-duduk sambil nonton TV. Tina duduk di sampingku. Aku peluk dia dari samping. Aku gesek-gesekkan pipiku ke pipinya. Mungkin masih terpengaruh film yang banyak adegan romantisnya tadi aku agak horny. Aku geser dudukku sehingga membelakangi dia. Aku peluk dari belakang. Aku remas-remas susunya. Tina meringis sambil menyandarkan tubuhnya ke dadaku. Aku tarik kaosnya. Aku tarik juga BH-nya. Tina tidak menolak. Akhirnya dengan bebas aku bisa meremas-remas susunya secara langsung. Susu Tina halus sekali, kenyal, dan anget. Tina membalikkan badan dan menarik kaosku. Akhirnya kami bertelanjang dada. Aku pandangi sebentar dua susunya dengan dua puting warna cokelat yang mulai mengeras itu. Lalu aku hisap putingnya dalam posisi masih duduk. Aku permainkan di antara gigi-gigiku. Tina mencengkeram kepalaku. Kepalanya menengadah. Aku berdiri sambil menarik tangannya sehingga dia ikut berdiri. Aku ajak dia berdiri di depan cermin yang besar sehingga memperlihatkan dengan jelas seluruh tubuhku dan tubuh Tina. Dia tersenyum melihatnya. Lalu aku berusaha melepaskan celananya. Dia balas melepas celana jinsku. Kembali kami melihat ke cermin. Aku dan Tina hanya pakai celana dalam. Mata Tina tertuju pada celana dalamku.

“Wow, kok?” suara Tina tertahan sambil menelah ludah.
“Hehe… iya. CD-nya ngak muat”. Sambil senyum-senyum aku memegang kepala penisku yang menyembul dari CD karena tidak muat.

Sebentar kemudian aku meraih CD Tina. Aku tarik hingga lepas. Memek Tina indah sekali. Bulu-bulunya tipis, saking tipisnya seperti agak gundul. Gundukan memek Tina tengahnya lancip. Seperti lereng gunung yang curam dan ditumbuhi savana yang sangat tipis. Tina tidak mau kalah. Dia meraih CD-ku. Dia kaget karena begitu CD-nya ditarik, penisku yang sejak tadi sudah sangat tegang ikut ketarik dan langsung memantul mengenai mukanya. Aku hanya senyum-senyum melihatnya. Sambil meletakkan CD ke lantai, mata Tina masih tertuju pada penisku yang cokelat kehitam-hitaman dan kepalanya memerah agak kebiru-biruan, panjang, besar, berurat, dan mengacung ke atas dengan gagahnya. Besarnya sama dengan lengan Tina.

“Mas, besar sekali?”
“Kamu pernah melihat penis sebelumnya?”
“Iya punya Bapak. Tapi tidak sebesar itu.”
“Santai saja. Kamu akan menikmatinya.”

Tina menurut. Aku kembali menuntun kepalanya agar menatap ke cermin. Aku peluk tubuh telanjang Tina dari belakang. Sementara penisku mengganjal di punggungnya. Indah sekali pemandangan di cermin. Tina benar-benar cantik bila telanjang, kulitnya halus mulus, mengkilat. Tubuhnya yang ramping dan mungil tertelan dalam tubuhku di belakangnya. Sangat kontras warna kulitku yang cokelat dengan kulitnya yang kuning berkilau terkena sinar lampu. Susunya yang sekal dengan puting warna cokelat yang mengacung sengaja tidak aku pegang agar aku bisa melihatnya dengan sempurna di dalam cermin. Tanganku mengelus-elus perutnya yang rata. Tina kemudian mengangkat tangannya dan meraih kepalaku di belakang kepalanya. Keteknya yang putih bersih tidak berbulu terpampang dengan sempurna. Dalam posisi itu Tina benar-benar sexy. Dadaku berdegup. Aku benar-benar ingin menikmati dan melumat seluruh tubuhnya malam ini. Perlahan tanganku naik meremas susunya. Dan bibirku melumat bibirnya. Tubuh Tina meliuk-liuk. Sesekali aku melihat ke cermin. Kami seperti dua ular yang saling merengkuh dengan kedua tanganku yang kekar meremas, memelintir, dan menguyek-uyek susu Tina yang putih dan kenyal. Masih dalam posisi berdiri di depan cermin, aku gosokkan tanganku ke selangkangannya. Tina membuka kedua kakinya, melegakan tangan kananku, tepatnya jari tengahku untuk menggosok dan menyibak gundukan memeknya. Ternyata memek Tina sudah basah.

Setelah puas melihat liukan tubuh mungil-mulus Tina dalam pelukan dan remasan-remasanku, aku rebahkan dia ke kasur. Aku langsung menindihnya dan menghisap putingnya. Aku sedot-sedor dengan halus, disertai dengan kejutan-kejutan yang berirama. Tina makin menggelinjang dan menjambak rambutku. “Hhmmmmm…………..” desisnya. Kurang lebih 5 menit aku menghisap putingnya. Kemudian aku turunkan kecupan bibirku pada perutnya yang rata. Lidahku berputar-putar pada pusarnya. Aku gigit-gigit kecil. Sementara dua tanganku masih tidak mau melepaskan susunya. Tangan-tanganku yang kekar terus menguyek-uyek susunya.

Kini mulutku telah sampai ke memeknya. Aku buka labia mayoranya dengan dua ibu jariku. Aku lihat ke dalam. Masih terlihat jelas selaput daranya. Aku jilat-jilat dalamnya. Tak lama kemudian aku hisap memek Tina dengan rakus. Aku sedot-sedot, seperti orang makan kepiting (Kalau anda pernah makan kepiting pasti tahu. Menyedot daging kepiting dari cangkangnya). Tina semakin menggelinjang kelojotan. Desisannya telah berubah menjadi jeritan-jeritan kecil. “Acchhhhhhhh…………. Shhhh……….”, suara Tina yang sendu, memelas, dan membangkitkan gairah. Aku terus “memakan” memeknya dengan rakus. Memek perawan memang nikmat rasanya. Bibirku bergerak ke atas mencari klitorisnya. Ketika aku temukan aku tarik dengan bibirku. Aku emut-emut seperti anak kecil mengemut permen kecil. Sesekali aku gigit halus dan aku tarik. Jeritan Tina makin menjadi. Tidak lebih dari 5 menit itu terjadi sebelum akhirnya aku merasakan ada perubahan pada memek Tina. Aku merasakan ada kedutan yang mengejut-ngejut. Dan benar, beberapa detik kemudian Tina mengejang-ngejang dan menjerit.

“Achhhh………………shhh…………..”

Aku langsung mendekap tubuh Tina yang masih mengejang. Aku peluk kuat-kuat. Aku tekan penisku yang melintang di atas memeknya, menyibak labia mayoranya. Aku putar-putar pantatku sambil menekan sekuat tenaga untuk memberikan kenikmatan tambahan. Waktu orgasmye cewek lebih merasakan kenikmatan kalau ditekan lebih besar daripada digesek. Sampai akhirnya dia melemas dan memejamkan mata. Aku ciumi pipinya. Sampai beberapa menit lamanya kami terdiam. Sementara penisku masih mengganjal di memeknya, membelah labia mayora sampai ke pusarnya. Penisku berkedut-kedut. Aku rasakan ada aliran basah sampai ke kantong testisku. Perlahan Tina membuka matanya. Bibirnya yang merah menyunggingkan senyum.

“Mas Wiro luar biasa.”
“Belum Tina, itu baru permulaan. Akan ada yang lebih lagi.”
“Iya”, kembali dia memejamkan matanya, pasrah.
Aku membalik tubuh Tina agar menindihku. Dia mengerti. Lalu dia duduk dan menciumi bibirku, leherku. Dia menciumi hampir seluruh permukaan dada dan perutku. Dia menyedot-nyedot putingku. Oh nikmat sekali rasanya. Sementara Tina sengaja menggesek-gesek selangkangannya di atas penisku sehingga memberikan sensasi yang luar biasa. Sampai akhirnya tangan kanan Tina meraih penis itu. Penisku yang cokelat dan berurat itu digenggamnya, kontras dengan warna kulit tangannya yang kuning langsat. Kelihatannya dia sangat mengagumi itu. Dia menciumnya, menjilatinya. Sepertinya dia ragu untuk mengulumnya. Tidak apa-apa aku tidak akan memaksanya untuk mengemutnya. Mungkin dia juga belum terbiasa. Lama sekali Tina memain-mainkan penisku dengan lidah, bibir, dan tangannya. Sampai akhirnya dia kembali menindih tubuhku dan menciumi bibirku.
Aku balik tubuhnya. Aku kulum bibirnya. Aku remas-remas susunya. Tina mulai terangsang lagi. Kembali aku menghisap pentilnya, pusarnya, dan akhirnya memeknya. Dan sekali lagi gadis yang masih perawan ini menggelinjang dan mendisis-desis. Aku pikir ini saat yang tepat. Aku kangkangkan pahanya. Dia mengerti. Kedua tangannya menuntun penisku ke arah memeknya. Kepala penisku menempel di pintu masuk memeknya. Wow, ekstrim sekali. Kelihatannya penisku kebesaran untuk ukuran memek Tina yang mungil. Aku gosok-gosokan kepala penisku ke dua labianya, ke itilnya. Aku masukkan itil Tina ke lubang kecil di kepala penisku. Hehe… masuk juga ternyata. Sementara Tina mendisis-desis kenikmatan.
Pelan-pelan aku menekan kepala penisku. Bukannya masuk, memek Tina malah ikut terdorong. Aku tambah tenaganya, ternyata meleset. Kembali aku gosok-gosok memek Tina dengan kepala penisku, aku dorong lagi, meleset lagi. Itu sampai 6 kali. Akhirnya kembali aku hisap-hisap memeknya pakai mulutku. Kembali Tina mendesis. Aku mulai dari awal lagi, aku basahi kepala penisku dengan cairan memek Tina dan ditambah ludahku. Aku gosok-gosokkan kepalanya, kemudian aku tambah tenaga, meleset lagi. Aku gosok-gosok lagi, aku dorong lagi, akhirnya (yg ke tujuh) kepalanya masuk. Oh seret sekali rasanya. Sementara Tina masih mendesis-desis. Dia belum merasakan sakit. Aku tambah ludah lagi ke memeknya biar lebih licin. Aku tekan lagi pelan-pelan, mili demi mili, centi demi centi. Tiba-tiba tangan Tina menahan pahaku.
“Sakit Mas. Pelan-pelan.”

“Iya sayang aku pelan sekali. Tahan sedikit ya. Nanti kalau sudah masuk akan enak.”

Aku pindahkan tangannya yang menahan pahaku. Masih dalam posisi kepala penisku menekan lubang memeknya aku raih susunya dengan kedua tanganku aku remas-remas. Aku plintir-plintir putingnya. Setelah itu aku tekan lagi penisku. Kembali Tina menjerit dan meringis kesakitan. Kemudian aku tarik lagi penisku untuk memberikan waktu penyesuaian pada memeknya. Setelah itu aku dorong lagi. Kali ini lebih keras. Sambil aku terus meremas susunya, aku tekan pantatku agak kuat. Dan…
“Krekkk…….” terasa penisku menerobos sesuatu.
“Awww………. Shhh………. Sakit Maaaas………” Suara Tina menjerit.

Tapi melemas di bagian akhirnya. Kedua matanya mengeluarkan air. Tina menangis. Aku rebahkan tubuhku di tubuhnya. Aku peluk dia kuat-kuat. Aku ciumi pipinya. Aku jilat air matanya yang mengalir di pipinya. Aku juga menggesek-gesek dadaku untuk memberikan rangsangan pada putingnya. Sementara aku membiarkan penisku yang baru masuk separuh di dalam memeknya. Kurang lebih 3 menit itu berlangsung. Sampai akhirnya Tina merasa tenang. Dengan lembut aku tatap wajahnya, aku belai rambutnya, dan aku kecup matanya.
“Tina, aku lanjutkan ya. Pelan sekali sayang…”
Bibir Tina mulai menyunggingkan senyum kembali, walaupun matanya masih berkaca-kaca. Aku kulum lagi bibirnya yang masih tersenyum. Sambil dalam posisi memeluk tubuhnya dan melumat bibirnya, aku mulai menarik penisku pelan, dan mendorongnya lagi. Aku tarik lagi. Aku dorong lagi. Senti demi senti penisku mulai masuk makin dalam. Aku terus menggenjot pelan dan halus. Beberapa saat kemudian Tina mulai mendesis lagi pertanda mulai menikmati. Sekarang aku coba untuk menancapkan lebih dalam lagi. Aku coba untuk duduk agar bisa melihat lebih jelas penisku yang menancap itu. Aku tarik penisku sampai tinggal kepalanya saja yang tertinggal. Dan dengan mantap dan pelan aku mendorongnya masuk sedalam-dalamnya. Ow… nikmat sekali, sempit dan peret. Akhirnya aku bisa melihat dengan jelas seluruh penisku yang besar, panjang, dan berotor itu masuk secara sempurna ke dalam memek Tina. Tina melenguh memejamkan mata. Dia benar-benar menikmati sensasi rupanya. Memek itu terlihat sangat penuh dan membengkak karena kepenuhan memuat seluruh batang penisku. Aku biarkan sejenak penisku merasakan hangatnya seluruh rongga dalam tubuh Tina. Kemudian dengan pelan aku tarik lagi penisku. Sruuuutt… tubuh Tina seolah ikut tertarik. Ketika hampir semuanya keluar kembali aku sodok pelan hingga masuk secara sempurna lagi. Begitu seterusnya. Penisku memompa memek Tina dengan pelan dan mantap. Tubuhnya turun naik mengikuti irama penisku. Dan setiap aku tusuk, bagian dari memeknya ikut masuk ke dalam. Begitu juga ketika aku tarik, bagian dari kulit dalam memeknya yang berwarna merah ikut ketarik. Aku melakukannya dengan sangat teratur dan pelan. Tina mulai mendesis-desis. Pandangan mataku tidak pernah lepas dari tubuh Tina yang mulus, dengan susu yang putih berguncang, wajah meringis dan kelihatan cantik sekali. Sementara penisku yang besar dan berotor menusuk amblas dalam memeknya yang merah, mengembang dan mengempot dengan dagingnya yang halus, licin tapi sangat peret. Hampir 10 menit aku bertahan dengan irama yang teratur dan pelan. Aku tidak mau menggunakan gaya yang macam-macam, belum saatnya.
Tubuh Tina menggeliat-geliat, matanya merem melek menahan sensasi. Susunya terguncang pelan dengan puting yang mencuat ke atas. Kepalanya terkulai ke kanan dan ke kiri. Sementara tangannya kadang memegang pantaku. Terkadang membelai-belai dan mencengkeram dadaku. Terkadang meremas-remas kasur menahan nikmat. Mulutnya terus mendesis seperti ular.
‘Ohh……… shhhhh………………, terus Mass……….”
“Iya sayang. Memek kamu enak bangettt………”
“Iya…….. shhhh………….”
Aku terus menggenjotnya. Penisku makin lancar masuk kedalam memeknya, amblas secara sempurna. Penisku sampai mengkilat, merah dan agak kebiru-biruan. Penis yang perkasa itu menyeruduk, menerobos lubang memek perawan Tina yang ranum, merah dan sempit. Makin lama rasanya semakin nikmat. Aku merasa pantatku bergerak sendiri secara mekanis. Kenikmatan telah mengambil alih kesadaranku dan dengan sendirinya menggerakkan dan memompakan penis yang perkasa itu ke dalam memek Tina. Aku seperti mesin, pantatku bergerak sendiri. Aku hanya menikmati dan menikmati. Tubuhku mulai meneteskan keringat dan jatuh membasahi kulit putih mulusnya Tina yang terus menggeliat dan merintihkan kenikmatan.
Setelah kurang lebih 15 menit aku merebahkan diri ke atas tubuh Tina. Aku peluk tubuhnya kuat-kuat. Aku dorong penisku hingga menancap dalam sekali. Tubuh Tina ikut terdorong ke atas. Aku terus menggenjot pantatku dengan irama yang tidak berubah. Tubuhku yang cokelat dengan tangan-tangan yang kekar seperti ular yang melilit tubuh Tina yang putih mulus, menggelutinya, menggumulinya dengan rakus dan buas. Tubuh Tina yang mungil itu seolah ditelan dalam tubuhku. Susunya terjepit di dadaku. Putingnya yang dari tadi mencuat kini mengkeret terjepit dan menggelitik di dadaku. Sementara pantatku tanpa henti menggenjot, memasukkan penis yang besar dan berurat kedalam memek Tina sedalam-dalamnya, menyodok-nyodok seluruh ruang dan permukaan kulitnya.
Aku mulai menambah variasi tusukanku. Sesekali ketika seluruh penisku ada dalam memek Tina, aku memutar-mutar pantatku, seperti mengebor, sambil menekannya dengan kuat. Sehingga penisku yang ada di dalam memeknya menggilas-gilas dan mengeruk-ngeruk permukaan kulit memeknya dari semua arah. Wow…….. nikmatnya luar biasa. Tubuh Tina sampai menggelinjang dan melutnya menjerit. Sementara jari-jari Tina mencakar-cakar punggungku. Aku terus mengulanginya dengan irama yang teratur. Aku tusuk dalam-dalam, kemudian aku putar, tarik lagi, tusuk biasa lagi. Begitu seterusnya. Irama itu membuat kenikmatan yang luar biasa. Tubuh kami yang sudah basah dengan keringat terus bergumul, saling lilit, saling rengkuh, seolah ingin mendapatkan kenikmatan sebanyak-banyaknya. Dua puluh menit berlalu dan kami terus bergumul tanpa istirahat sedetikpun. Penisku yang seperti tongkat perkasa dan berurat dengan setia menusuk-nusuk, mengobok-obok memek Tina tanpa ampun, benar-benar tanpa jeda.
“Maaaaas……………….. aku mau keluaaaarrrrr……….” jerit Tina terputus-putus.
“Tahan sayang. Kita keluar bersama-sama….”
Aku merasa tubuh Tina mengejang. Memeknya berkedut-kedut. Kepala penisku merasakan kedutan itu. Sementara ujung kenikmatanku juga sudah mulai sampai. Aku tusukkan dalam-dalam penisku sekuat tenaga sampai mentok rasanya. Kemudian aku putar-putar sehingga kepala penisku menggaruk-garuk isi memek Tina. Wow……nikmatnya luar biasa. Tubuhku menegang. Putaran pantatku berganti-ganti ke diri dan ke kanan, seperti gilingan.

“Ohhhh………….Achhh…………………” Tina menjerit sejadinya.

Tangannya mencengkeram punggungku. Tubuhnya mengejang-ngejang dan kelojotan. Sementara penisku yang panjang, besar, dan perkasa berputar-putar menggaruk-garuk isi memeknya. Aku tekan dan putar terus.

“Aghhrrrrrrrrrrr……………” aku mengerang seperti harimau lapar. Aku tekan penisku sekuat tenaga menancap dalam memek Tina dan menyemprotkan air mani yang banyak sekali.
Tubuhku dan tubuh Tina sama-sama mengejang, menggelinjang-gelinjang, melepaskan kenikmatan yang luar biasa. Kedutan demi kedutan terus menyerang memek Tina sehingga mencengkeram penisku yang terus menancap dan menekan dengan kuat. Hampir dua menit kami merasakan orgasme yang luar biasa itu. Sampai akhirnya tubuh kami terhempas di atas kasur. Kami terdiam, lunglai, lemas, dengan mandi keringat.
Lima menit berlalu kami masih terkulai. Aku masih menindih dan memeluk tubuh Tina. Penisku juga masih menancap dalam memeknya, menikmati sisa-sisa sensasi tadi. Aku gesek-gesekkan pipiku ke pipinya. Aku angkat wajahku. Tina mulai membuka mata. Matanya berkaca-kaca. Kembali aku kecup matanya. Aku belai pipinya. Aku seka beberapa helai rambutnya yang melekat di keningnya yang basah oleh keringat.

“Tina, menikahlah denganku”.

Tina hanya tersenyum, tapi matanya masih berkaca-kaca. Kami terus berciuman sambil sesekali berbicara dengan nada yang sangat lembut. Tapi Tina belum menjawab ajakanku.

Setelah setengah jam berpelukan dan beristirahat, kami terangsang kembali, sehingga untuk yang kedua kalinya kami bersetubuh, bergulat, merengkuh kenikmatan yang luar biasa. Malam itu aku menyetubuhi Tina tiga kali. Aku bisa mengantarkannya orgasme lima kali, enam kali dengan orgasme waktu foreplay.

Paginya kami bangun terlambat. Karena kasihan, aku menyarankan Tina untuk tidak masuk kerja. Aku antarkan dia ke kosnya, dan aku bilang ke teman-teman di toko kalau Tina tidak enak badan.

Sejak saat itu aku rutin bercinta dengan Tina. Makin lama Tina makin ahli. Kami melakukannya di hampir semua tempat. Pernah malam-malam ketika semua orang pulang dari toko aku bercinta dengan Tina di kursi dan meja kasir. Tapi semua pintu sudah aku kunci dari dalam. Saking hotnya, tangan Tina sampai menyenggol keramik vas bunga dan jatuh. Untuk menutup kecurigaan orang-orang malam itu juga aku cari kucing tetangga, terus aku kasih makanan di dalam toko, setelah itu aku kunci pintunya. Hehe, berhasil, semua orang mengira kucing itu yang menjatuhkan vas.

Hampir dua bulan berlalu. Tapi setiap kali aku ajak Tina untuk berbicara serius tentang hubungan kami dia mengalihkan pembicaraan pada yang lain. Aku bukan hanya menikmati hubungan badan dengan Tina tapi lebih dari itu, mungkin aku mulai mencintainya. Karena itu setiap bersetubuh aku selalu mengeluarkan spermaku di dalam. Selain itu sangat nikmat, kalaupun hamil, aku akan menikahi Tina.

Sampai suatu hari (hari Minggu) Tina mengajakku lari pagi ke hutan UI di depok. Di jalan setapak dalam hutan itu, sambil duduk santai, Tina mengatakan bahwa dia sebenarnya telah dijodohkan oleh orang tuanya. Aku sangat terkejut dan benar-benar tidak mengira. Tina menangis dalam pelukanku sambil minta maaf karena telah memberi peluang kepadaku. Karena itu dia tidak pernah mau menjawab ajakanku untuk menikah.

“Aku akan datang ke orang tuamu. Dan apapun persyaratannya, akan aku penuhi asal aku bisa menikahimu”. Aku berusaha meyakinkan Tina.

Tina tetap diam dan memelukku. Aku belai rambutnya, aku ciumi rambutnya. Ini ternyata jawaban mengapa Tina selalu menghindar kalau aku ajak bicara serius. Akhirnya kami pulang dengan pikiran tidak jelas. Aku tidak mau memaksa Tina untuk menyetujui ideku. Sampai di kos, dengan nada yang halus aku kembali membuka pembicaraan. Aku berharap bisa menambah semangatnya.

“Tina, aku akan lakukan apa pun agar orang tuamu setuju kita menikah. Kita tidak akan lari. Kita akan hadapi mereka.”

Akhirnya Tina mau berbicara.

“Mas Wiro, aku bukan dinikahkan paksa! Aku dijodohkan karena aku menyetujuinya. Itu sudah 3 tahun yang lalu. Aku tidak mau mengecewakan orang tuaku, dan Mas Hardi”.
“Jadi……….” aku agak gugup.
“Aku mencintai Mas Hardi, calon suamiku”.
Aku lepaskan pelukanku. Aku tatap matanya lekat-lekat.
“Aku mencintai Mas Hardi. Tapi sejak ketemu kamu, aku juga menyukaimu. Aku tidak bohong, please….. mengertilah”.

Aku tidak bisa berbicara. Aku diam. Aku mengalihkan pandangaku ke segala arah. Nafasku turun naik. Tiba-tiba Tina menubrukku, menciumiku, dan menggumuli aku di kasur. Dia duduk di perutku sambil kedua tangannya memegang tanganku.

“Mas Wiro, aku mencintai kamu. Karena itu aku rela menyerahkan keperawananku. Tapi aku tidak bisa menikah denganmu. Karena aku tidak mau mengecewakan calon suamiku. Aku juga mencintainya.”

Aku tidak bisa berpikir. Dan aku memang benar-benar tidak punya kesempatan lagi untuk berpikir. Karena beberapa detik setelah menyelesaikan kalimatnya, Tina memelukku, mencium dan melumat bibirku. Dia tanggalkan seluruh bajunya dan bajuku. Tina seperti singa lapar. Dia memperkosaku!

Hari-hari berikutnya berlalu dengan hampa. Aku lebih sering menyendiri, merenung dan mencari-cari logika yang pas yang dengan itu aku bisa menerima jalan pikiran Tina. Sampai akhirnya aku putuskan untuk berpikir sederhana, sesederhana pikiran Tina. Nikmatilah cinta, walau sesaat, sebelum dia pergi.

Aku menyesal telah melewatkan beberapa hari ini tanpa Tina. Aku langsung bergegas menuju kosnya. Aku ajak Tina pergi ke puncak, karena waktunya tinggal 3 hari lagi sebelum dia harus pulang ke Bandung. Tina setuju. Aku minta cuti ke bosku dan bilang mau mengantarkan Tina ke tempat saudaranya di Sukabumi, setelah itu langsung ke Bandung.

Aku ambil seluruh uang tabunganku. Kami menginap di sebuah vila yang agak jauh dari jalan di Cipanas. Siang itu aku ajak Tina berjalan-jalan di kebun teh, main kejar-kejaran seperti film-film India. Malamnya kami istirahat, dan tentu saja, bercinta. Aku rebahkan tubuh putih mulus Tina di kasur dengan posisi telentang dan kaki lurus merapat. Aku jilati seluruh permukaan kulitnya, senti demi senti, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aku nikmati seluruh permukaan kulitnya seperti anak kecil yang menjilati permen yang sangat besar. Untuk menambah sensasi aku lumurkan madu yang telah aku siapkan (satu botol besar) sebelumnya di seluruh permukaan kulitnya. Hal yang sama juga dilakukan Tina pada seluruh tubuhku. Hampir satu jam itu berlangsung. Tubuh kami mengkilat, basah oleh madu bercampur air liur.

Kemudian kami bergumul. Nikmat sekali rasanya, karena tubuh kami sama-sama licin ditambah bau harum madu. Tak henti-hentinya aku mengusap punggung dan pantat Tina karena nikmat, sambil terus menggumulinya, melumat bibirnya. Aku selalu menambahkan madu pada puting susu Tina, karena tempat itu paling sering aku sedot. Puas bergumul aku membalikkan tubuh Tina. Aku suruh nungging. Aku gosok-gosokkan kepala penisku ke mulut memek Tina yang mancung. Aku gesek-gesek kepalanya searah belahan labianya. Kemudian, dengan pelan aku dorong.

“Uhhhh……………” Tina melenguh, merasakan senti demi senti kepala penisku yang menyeruak menyusuri kulit memeknya, merenggangkan otot-otot dalam vaginanya secara bergilir dan meninggalkan guratan yang sangat nikmat per milimeter pada dinding-dinding itu.

Akupun mendesis menahan nikmat. Tusukan pertama selalu memberi kenikmatan pembuka yang luar biasa. Perbandingannya kurang lebih sama dengan orang yang minum es waktu haus. Tegukan pertama memberikan kenikmatan yang akan selalu diingat sampai seluruh minuman itu habis.

Selanjutnya aku menusukkan penisku yang besar dan berurat itu secara teratur mendorong dan menancap di tengah memek Tina dengan sangat indahnya. Memek Tina seperti gunung yang kawahnya ditancap dengan paku raksasa, didorong dan ditarik dengan teratur, dikocok-kocok, sampai air kawahnya keluar merembes, membasahi seluruh permukaan gunung. Penisku sampai mengkilat dan biru dibasahi oleh cairan memek Tina.

Seperti biasa, aku kocok terus memek Tina tanpa jeda dengan irama yang nyaris tidak berubah. Tak ada yang terlintas dalam pikiranku keculali rangsangan-rangsangan yang menggelitik di seluruh permukaan batang penisku. Rangsangan-rangsangan itu makin lama makin menguasai otakku sampai akhirnya menggerakkah seluruh tubuhku secara mekanis. Seolah kesadaranku tidak berfungsi. Rangsangan itu secara langsung menggerakkan pantatku, menancapkan penis besarnya, menusuk-nusukkannya tanpa henti, tanpa sedikitpun memberikan kesempatan pada kesadaranku untuk ambil bagian. Setiap tusukanku selalu direspon oleh rintihan Tina yang menggetarkan kelakianku. Rintihan-rintihannya menyelimuti seluruh ruangan. Aku lihat di kaca tubuh putih mulus Tina berguncang-guncang, susunya bergelayutan menggapai-gapai, didorong oleh penisku yang menancap mantap di memeknya. Sesekali tubuhku yang besar dan cokelat memeluknya dengan kuat, menelan tubuh mungilnya, dan menusukkan penis yang perkasa, mengirimkan hunjaman kenikmatan yang luar biasa sampai ke dasar memeknya. Sampai 17 menit itu berlangsung sampai kakiku pegal.

Kemudian aku tarik tubuh Tina dengan berpegang pada susunya. Aku berbaring, Tina duduk di atas penisku yang masih menancap. Kemudian dia mulai menggoyang-goyangkan pantatnya sambil sesekali memutarnya. Penisku beputar dalam rahimnya. Wow, luar biasa rasanya. Dengan gerakan seperti itu penisku benar-benar mengaduk-aduk seluruh isi rahimnya, mengurat seluruh permukaannya. Tina sampai menggelinjang dan memejamkan mata manikmati guratan-guratan itu. Sesekali Tina merendahkan dadanya, sehingga mencapai mulutku. Sementara penisku mengobok-obok memeknya aku lumat putingnya dengan mulutku, aku hisap-hisap.

“Acchhhhhhhh……………………”, Tina melenguh dan menjerit. Dia menghempaskan tubuhnya ke dadaku. Aku remas-remas susunya sambil aku tusuk memeknya dengan penisku melanjutkan irama goyangan Tina yang sampat terhenti. Aku ambil alih kendali. Aku balik tubuh Tina. Aku kangkangkan dia. Memeknya yang merah dan basah menggunduk, sangat menantang. Aku segera mengarahkan kepala penisku, dan dengan mantap aku menancapkannya secara sempurna.

“Ughhhh……………………………”, kembali Tina melenguh, merasakan seluruh batang penisku yang amblas ke dalam memeknya.

Aku segera memompanya dengan kuat dan dalam. Setiap pompaan selalu aku dorong dengan tenaga sehingga penisku menancap dengan sempurna. Selangkangan Tina sampai bertumpu pada selangkanganku. Penisku benar-benar menancap dalam, dan mentok. Kantong pelirku mengganjal ke anusnya. Rintihan dam desahan Tina semakin keras, mengimbangi hentakan-hentakan pantatku yang juga semakin cepat dan bertenaga. Kepala Tina bergoyang ke kanan dan ke kiri, sementara wajahnya meringis mengapresiasikan kenikmatan yang luar biasa di dalam memeknya. Aku terus memompa, menggenjot, dengan kuat dan cepat. Tubuh kami sudah basah oleh keringat bercampur madu.

Sesekali aku memeluk tubuh Tina, merengkuhnya. Sementara pantatku terus mengenjot dan menusukkan penis yang besar ke dasar vaginanya. Bagiku waktu semakin tidak berarti. Aku sudah tidak ingat bagaimana posisi kami. Yang jelas kami terus bergumul dan bergumul. Mungkin yang lebih tepat aku menggumulinya dan merengkuhnya. Karena tubuhku yang besar dan cokelat itu hampir-hampir menelan seluruh tubuh Tina yang mungil dan putih mulus, membuatnya seperti cacing yang menggeliat-geliat dalam genggaman tangan yang perkasa. Dengan erangan-erangannya, aku tahu Tina merasakan kenikmatan yang luar biasa, kenikmatan tubuh mulusnya yang direngkuh kuat dan perkasa, kenikmatan vaginanya yang seret yang ditembus dan diobok-obok oleh penis yang besar, panjang, dan berurat. Kenikmatan itu menyatu dalam dirinya, menyatu dalam jiwanya, membuatnya setengah sadar setengah tidak, mengerang, menjerit, mengekspresikan kenikmatan yang meluap, dan meletup dalam dirinya. Tubuh mulus Tina seolah meledak menahan kuatnya kenikmatan itu. Tubuh putih mulus Tina menggeliat-geliat, berguncang, dan luluh oleh kenikmatan.
Waktu berjalan terus, sementara tubuh kami terus bergumul tanpa henti. Ruangan itu menjadi bergelora oleh nafsu yang terus bergolak dan memuncak dalam dua tubuh yang bergumul itu. Hampir seluruh sprei basah oleh keringat dan madu. Sampai akhirnya, dengan posisiku di atas, aku merasakan memek Tina berdenyut. Sementara penisku juga sudah merasakan aliran nikmat di ujungnya. Tina menjerit keras.

“Aaaccchhhhhhhhhhhhh………………………… ………………………………………” begitu keras jeritannya, melengking menelan semua suara hentakan tubuhku di tubuhnya.

Aku dorong sekuat tenaga hingga penisku menancap, menembus memek Tina. Aku ucek-ucek pantatku, menekan dan menancapkan penis itu dengan sepenuh tenaga. Denyutan-denyutan penisku membuat tenagaku berlipat. Tubuh Tina tenggelam dalam kasur karena begitu kuatnya dorongan pantatku. Denyutan demi denyutan terus melanda penisku, membuat kenikmatan yang luar biasa itu tumpah, seperti air bah, menghilangkan seluruh kesadaranku, dan merubahnya menjadi tenaga yang aku tancapkan terus ke dasar memek Tina. Aku meraung seperti harimau lapar yang sedang melumat Tubuh mulus Tina yang sedang kejang dalam orgasmenya. Raunganku seperti sahutan terhadap jeritan Tina yang melengking.
Semprotan spermaku muncrat dalam memek Tina, membasahi dan mengguyur dasar rahimnya, sementara penisku mendorongnya dengan sangat kuat, mengantarkan kenikmatan sampai ke ulu hatinya.

Ruangan seperti gelap. Aku berusaha membuka mata. Tapi tidak ada yang terlihat. Semuanya tetap gelap. Aku tidak bisa merasakan apa-apa selain kedutan di penisku yang membuat seluruh tubuhku mengejang. Sementara tubuh Tina juga mengejang, menghentak-hentak, kelojotan seperti cacing kepanasan.

Sampai akhirnya tubuh kami terhempas. Aku terus merengkuh tubuh Tina yang sudah lemas, seolah tidak rela kenikmatan itu pergi. Penisku masih menancap dan sesekali berkedut. Dua tubuh itu lunglai di atas sprei yang acak-acakan, penuh dengan keringat dan sisa-sisa madu.
Malam itu aku bercinta dengan Tina sampai tengah malam. Itupun terpaksa aku hentikan karena Tina pingsan. Sambil penisku masih menancap dalam memeknya aku tertidur. Pagi harinya kami tidak bisa bangun. Akhirnya kami istirahat total dan memanggil tukung pijit dan minum jamu. Malam kedua kami bercinta kembali, tapi tidak sedahsyat malam pertama. Malam ketiga kami bercinta habis-habisan. Aku minum viagra. Sementara Tina minum jamu tradisional. Tengah malam Tina pingsan lagi. Tapi tak lama kemudian dia sadar. Dia membangunkan aku.

“Malam ini malam terakhir. Habiskanlah aku. Rengkuhlah tubuhku sekuatmu, sepuasmu. Remukkanlah seluruh tulang-tulangku dengan nafsumu. Puaskanlah aku…..”
Tanpa menjawab aku langsung merengkuhnya. Kembali kami bergumul. Kali ini aku lebih banyak bekerja agar Tina tidak pingsan lagi. Entah berapa lama kami bergumul sampai akhirnya tiba-tiba hari telah terang. Tina duduk di sebelahku menyodorkan kopi.
“Semalam kamu pingsan. Tapi tidak apa-apa. Tadi malam adalah malam paling memuaskan dalam hidupku”, sambil berkata Tina menyuapkan roti yang dari tadi dimakannya.
Begitu kopi dan roti itu habis, aku tarik tubuh Tina. Aku tanggalkan seluruh bajunya. Kembali aku menyetubuhi gadis itu. Aku tidak mau kehilangan sedikitpun waktu. Aku menyetubuhi gadis ini dengan rakus, menggelutinya, melumat tubuhnya, mengoyak-oyak memeknya dengan penisku yang masih perkasa, dan meremukkan tulang-tulangnya. Sampai akhirnya kami terhempas entah yang keberapa kalinya.

Siangnya kami mandi bersama. Setelah itu aku mengantarnya ke Bandung. Sepanjang perjalanan Tina tertidur. Aku tidak bisa tidur. Kebiasaannku kalau capek teramat sangat. Menjelang Maghrib kami sampai di terminal. Selanjutnya Tina berangkat sendiri menumpang angkot. Dia tidak mengijinkan aku ikut agar tidak ada yang curiga. Sebelum pulang Tina bilang kalau ada waktu dia ingin bertemu kembali denganku. Tentu aku menyetujuinya. Dia berjanji jika ada kesempatan akan menelponku. Tentu, tentu aku akan datang ke Bandung dan menyetubuhinya. Dengan catatan jika suaminya sedang keluar kota

Dr. Hamidah

Dr. Hamidah, mempunyai klinik sendiri di sebuah kawasan perumahan mewah. Dia dibantu oleh tiga orang pekerja wanita, seorang sebagai penyambut tamu dan dua orang bekerja di bahagian ubat. Kliniknya agak maju dan sentiasa dikunjungi pesakit dengan berbagai penyakit yang dideritai.

Suatu malam kira-kira pukul sembilan, Dr.Hamidah dikunjungi oleh seorang pesakit lelaki Cina umur akhir 30-an. Namanya Ah Kaw. Ah Kaw melangkah masuk ke bilik kerja Dr.Hamidah dengan langkah terkengkang-kengkang. Dr.Hamidah perhatikan saja Ah Kaw berjalan perlahan-perlahan dan mempersilakan Ah Kaw duduk di kerusi di hadapannya di bahagian sisi meja kerja Dr.Hamidah.

“Ada yang sakit?” Tanya Dr.Hamidah memulakan bicara.
“Ada doktor,” balas Ah Kaw perlahan sambil menahan sakit.
“Bahagian mana sakit:? Tanya Dr.Hamidah.

Ah Kaw tidak menjawab dan matanya hanya bertumpu ke arah tetek Dr.Hamidah yang bersaiz 42D yang begitu menonjol di bawah tudung labuh yang dipakainya. Puting besar Dr.Hamidah juga menonjol sedikit kerana tudung & baju kurung yang dipakai Dr.Hamidah adalah jenis sutera yang melekat badan.

“Bahagian mana yang sakit?” Tanya Dr.Hamidah lagi. Dr.Hamidah sedar bahawa mata Ah Kaw sedang pandang kearah teteknya sebab itu Dr.Hamidah meninggikan suaranya semasa menanya Ah Kaw buat kali kedua. Ah Kaw terkejut lalu menjawab Dr.Hamidah dengan perasaan malu-malu.

“Eeerrrr… bahagian…errr… bahagian…..” ,
“Jadi sakit di mana?” Tanya Doktor lagi.
“Bahagian….. eeerr… bahagian… bawah saya doktor,” jawab Ah Kaw malu-malu sambil matanya merenung kearah batangnya.
“Di sini ke sakit?” Tanya Dr.Hamidah sambil menunjuk ke arah batang Ah Kaw.
“Ya” jawab Ah Kaw dengan ringkas.
“Macam mana sakitnya?” soal Dr.Hamidah lebih lanjut.
“Satu jam tadi waktu saya memakai seluar, hujung penis saya tersangkut zip. Waktu saya lepaskanya hujung penis saya luka. Sakit doktor,” terang Ah Kaw.

Walaupun Dr. Hamidah berstatus Hajah, bertudung labuh dan alim, tetapi sebagai seorang doktor, Dr.Hamidah bersikap professional menjalankan tugasnya dan tetap kene menanya soalan yang berkaitan kesakitan yang dihadapi pesakitnya serta memeriksa pesakitnya, walaupun sakitnya di bahagian kemaluan, sebagai seorang doktor itulah tanggungjawabnya keatas pesakit yang datang ke kliniknya. “Baiklah, nanti saya periksa. Sila baring atas katil itu dan buka seluar kau supaya lebih selesa saya memeriksanya,” arah Dr.Hamidah.

Ah Kaw dengan gembira melondehkan seluarnya tetapi dengan hati-hati agar koneknya tidak tersepit zip. Ah Kaw dah serik dengan pengalaman yang ditempuhinya. Dr.Hamidah nampak konek Ah Kaw masih lembut tergantung di celah pahanya. Sungguhpun begitu ukurannya agak besar dan panjang. Warnanya agak hitam kecoklatan macam belut. Bahagian kulupnya memang luka tapi tidak ada darah. Mungkin darahnya telah kering.

Tanpa malu Dr.Hamidah menjalankan tugasnya lalu terpaksa memegang dan memeriksa konek Ah Kaw kerana setakat dari memandang sahaja Dr.Hamidah tidak dapat memastikan samaada lukanya serios ataupun tidak. Dr.Hamidah rasa geli di tapak tangan bila konek Ah Kaw dipegangnya walaupun Dr.Hamidah memakai sarung tangan getah. Satu batang warna hitam kenyal bergolek-golek di tapak tangan. Dr.Hamidah perhati pada luka di hujung kulup, tidak berapa besar lukanya dibahagian luar. Dr.Hamidah cuba menyelak kulup untuk melihat luka bahagian dalam. Dr.Hamidah mendapati hampir tiada kesan luka.

“Tak apa, sikit saja lukanya,” kata Dr.Hamidah meyakinkan Ah Kaw.
“Tapi sakit doktor,” jawab Ah Kaw.
“Sakit sekejap saja. Nanti saya sapu ubat,” kata Dr.Hamidah sambil mengambil sedikit kapas lalu celup dalam air bersih dan sapu pada kulit kulup yang luka.
“Kenapa tak potong saja kulup ni, taklah selalu tersepit zip,” Dr.Hamidah memberi pandangan.
“Saya takut doktor,” jawab Ah Kaw pantas.

Mungkin kerana geli bila disapu kapas, tiba-tiba konek Ah Kaw perlahan-perlahan membesar di tapak tangan Dr.Hamidah. Mula-mula Dr.Hamidah terkejut juga melihat batang Ah Kaw bergerak membesar dan memanjang. Tapi sebagai seorang doktor yang professional,Dr.Hamidah tidak boleh menunjukkan perasaannya. Sambil Dr.Hamidah gosok kapas Dr.Hamidah perhati saja konek Ah Kaw. Dr.Hamidah lihat batangnya lebih besar dan panjang dari tadi. Kepala konek yang merah licin perlahan-lahan mula muncul dari dalam muncung kulup. Makin lama konek Ah Kaw makin keras dan tegang. Seluruh kepala konek muncul keluar habis dari penutupnya. Merah licin berkilat seperti topi keledar.

“Kenapa konek kau keras?” Tanya Dr.Hamidah pada Ah Kaw.
“Saya tak tahan, geli. Kapas doktor menggelitik penis saya,” jawab Ah Kaw selamba.
“Dan lagi wajah doktor sungguh cantik. Kulit doktor halus, mulus dan licin, badan doktor sungguh harum, dan yang paling mengancam ialah tetek doktor yang sangat besar. Walaupun doctor pakai tudung labuh, tutup semua bahagian dada doktor, tetapi saiz tetek doktor juga dapat dilihat, cantik,tegang dan sangat besar.” terang Ah Kaw tanpa disuruh.

Dr.Hamidah rasa seperti darah mengalir deras di mukanya. Muka Dr.Hamidah merah padam mendapat pujian Ah Kaw. Dr.Hamidah tersipu dan akhirnya baru Dr.Hamidah sedar bahawa walaupun dia bertudung labuh, tetapi kerana saiz teteknya yang sangat besar ini memang dapat dilihat dengan jelas, tambahan pula saya memakai baju kurung dan tudung labuh silk yang lekat badan. Bra Dr.Hamidah pula jenis yang nipis transparent, breast uplift dan dalam bilik aircond yang sejuk puting susu Dr.Hamidah menegang jadi tentu menonjol sedikit disebalik pakaiannya. Dan tentu saja Dr.Hamidah menyembur perfum sebelum meninggalkan rumahnya.

“Apa yang perlu saya buat doktor, saya tak boleh pakai seluar sekarang?” soal Ah Kaw pada Dr.Hamidah memancing.

Dr.Hamidah lihat konek Ah Kaw terpacak keras. Konek besar panjang berdenyut-denyut dengan kepala licin berkilat. Kira panjangnya lebih 6 inci. Tiba-tiba cipap Dr.Hamidah mengemut. Konek keras terpampang di hadapannya membuat perasaan Dr.Hamidah tidak keruan. Sungguhpun begitu Dr.Hamidah tidak boleh memperlihatkannya. Sebagai doktor dan gadis bertudung labuh yang alim Dr.Hamidah perlu menjaga imej.

“Kau lancapkan saja konek kau supaya dia lembek,” arah Dr.Hamidah dengan suara perlahan untuk tidak menunjukkan perasaannya yang tidak tenang.
“Saya boleh lancap tapi doktor kena bogel depan saya,” jawab Ah Kaw bersahaja.
Dr.Hamidah terkejut dengan permintaan Ah Kaw. “Apa kau kata?! berani kau mintak saya bogel depan kamu. Saya ni doktor kamu bukan isteri atau makwe kamu, cepat lancapkan sendiri” marah Dr.Hamidah.
“Sorry doktor, mungkin doktor terlalu mengancam jadi saya terlanjur kata “ Ah Kaw minta maaf.

Ah Kaw mula memegang koneknya melancap. Selepas 5 minit Ah Kaw masih belum pancut dan koneknya semakin keras dan tegang. Dalam masa 5 minit itu mata Dr.Hamidah tidak berkelip memerhati seorang laki melancapkan konek panjangnya betul-betul didepannya. Perasaan Dr.Hamidah semakin tidak menentu, dan Dr.Hamidah dapat rasa bahawa cipapnya mula basah. Dr.Hamidah mula resah, kerana nafsunya semakin membara dalam dirinya.

“Kenapa lama sangat belum pancut?” Tanya Dr.Hamidah.
“Melancap seorang, saya memang lama nak pancut doktor” jawab Ah Kaw.
“Kalau nak cepat doktor kene tolong saya, tolong bogel depan saya, supaya saya lagi stim” jawab Ah Kaw selamba.

Jika Dr.Hamidah tak menurut mungkin lama Ah Kaw berada dalam biliknya. Ini bilik rawatan bukan bilik tidur. Hati Dr.Hamidah tak menentu. Dr.Hamidah perlu membuat keputusan segera. Akhirnya Dr.Hamidah mengunci pintu. Dr.Hamidah terpaksa mengikut kehendak Ah Kaw lalu mebuka baju kurung dan skirt yang dipakainya.

“Sekarang kamu cepat lancap, dan lembikkan batang kamu”. Tegas Dr.Hamidah.
Hanya tudung labuh, coli dan seluar dalam yang masih tinggal. Hampir separuh daging tetek giant Dr.Hamidah kelihatan seperti hendak terkeluar dari colinya yang ketat dan walaupun memakai coli namun putting susu Dr.Hamidah yang besar tetap kelihatan disebalik coli transparentnya. Mata Ah Kaw terbeliak tengok tetek Dr.Hamidah yang begitu mengliurkan. Dr.Hamidah cepat-cepat menutupi dadanya dengan tudung labuhnya apabila mengetahui mata Ah Kaw tajam memandang teteknya. Dr.Hamidah duduk sementara Ah Kaw berdiri di hadapan Dr.Hamidah. Ah Kaw segera menggenggam batang kerasnya dan mula menggosok maju mundur. Mula-mula pelan kemudian makin laju. Lama juga dilancapkan koneknya. Kulit koneknya bergerak lancar dibatang keras. Digerakkan tangannya ke hujung dan ke pangkal kepala konek. Dr.Hamidah lihat sekejap terbuka dan sekejap tertutup. Sekejap ada sekejap tiada. Lima minit lagi berlalu tiada tanda-tanda Ah Kaw akan pancut.

“Doktor bukalah coli dan seluar dalam doktor, baru cepat pancut,” mohon Ah Kaw.
Dr.Hamidah tidak mempedulikan permintaan Ah Kaw dan hanya berdiam diri. Kerana Dr.Hamidah tidak memenuhi permintaan, Ah Kaw berdiri lebih dekat lagi sebelah Dr.Hamidah dan kini batang Ah Kaw betul-betul di hadapan muka Dr.Hamidah. Perasaan Dr.Hamidah semakin membara dan cipapnya semakin basah dengan air mazinya yang banyak keluar. Dr.Hamidah semakin tidak dapat mengawal diri kerana dihadapannya seorang laki sedang melancap batangnya yang panjang tegang menantinya untuk bertindak. Ah Kaw tahu bahawa Dr.Hamidah telah stim kerana pernafasaan Dr.Hamidah semakin tidak menentu. Jadi sekali lagi Ah Kaw memancing Dr.Hamidah membuka coli dan seluar dalamnya.

Kali ini tanpa berfikir panjang sekali lagi Dr.Hamidah terpaksa menurut untuk mempercepatkan Ah Kaw pancut. Dr.Hamidah terpaksa menolong Ah Kaw pancut secepat mungkin sebab Dr.Hamidah semakin tidak dapat mengawal diri akibat nafsu seksnya yang kian membara pada tahap maksimum dan Dr.Hamidah risau kalau Ah Kaw berada lama lagi dalam biliknya, kemungkinan besar Dr.Hamidah akan berlaku sumbang dengan Ah Kaw hari ini. Perlahan-lahan coli dan seluar dalam nipis warna krim Dr.Hamidah tanggal dan kini hanya tinggal tudung labuhnya sahaja yang dapat menolong menutupi tetek besarnya. Mata Ah Kaw terbeliak melihat tetek Dr.Hamidah 42D yang besar dan pejal dan cipap Dr.Hamidah yang dicukur bersih. Ini adalah pertama kali Ah Kaw melihat seorang perempuan melayu dan mempunyai teteknya begitu besar bogel depannya. Bibir cipap Dr.Hamidah basah oleh cairan licin yang keluar dari dalam rongga cipap. Bibir dalam yang sedikit terbuka warna merah muda menarik perhatian Ah Kaw. Ini merupakan hari bertuah Ah Kaw.

Gerakan tangan Ah Kaw makin laju. Dicapainya seluar dalam Dr.Hamidah dari atas meja sambil dibawa ke hidungnya. Seluar dalam Dr.Hamidah yang lembab basah berair mazi diciumnya. Gerakan tangan yang satu lagi digerakkan makin laju. Dr.Hamidah lihat konek Ah Kaw makin keras.

“Doktor buka sedikit paha doktor,” perintah Ah Kaw.

Dr.Hamidah terkejut seketika tetapi dengan patuh Dr.Hamidah menurut. Dr.Hamidah menaikkan kedua kakinya ke tempat duduk kerusi. Dr.Hamidah buka pahanya agak luas. Muara cipap Dr.Hamidah ternganga merah lembab. Ah Kaw makin laju melancapkan koneknya. Tiba-tiba Ah Kaw membongkok di depan Dr.Hamidah. Cipap Dr.Hamidah yang mekar dicium dan dijilat. Dr.Hamidah teramat geli bila lidah Ah Kaw berada di hujung kelentitnya yang licin. Dr.Hamidah tidak dapat menahannya kerana dirinya semakin khayal dalam gelora nafsunya sendiri. Lama juga Ah Kaw membelai cipap Dr.Hamidah dengan lidahnya. Ah Kaw pandai bermain cipap Dr.Hamidah dengan lidahnya, sehingga Dr.Hamidah lupa diri, lalu menikmatinya. Basah lencun permukaan cipap Dr.Hamidah dengan air liur Ah Kaw bercampur air nikmat yang meleleh keluar dari dalam cipap Dr.Hamidah.

Tiba-tiba Ah Kaw berdiri. Lancapannya makin laju. Batang konek warna hitam makin keras. Kepala konek mengembang bulat licin. “Doktor lambat lagi nak pancut, doktor tolong…..” kata Ah Kaw. “Kan..aann.. saya dah bogel habis depan you.. dan tadi you telah hisap cipap saya…, nak tolong macam mana lagi ? “ Tanya Dr.Hamidah dengan suara yang lemah kerana dirinya semakin berkhayal. “Errmm…. Doctor tolong hisapkan” minta Ah Kaw. Ah Kaw menghalakan koneknya tepat di bibir Dr.Hamidah , menunggu Dr.Hamidah menghisapnya. Ah Kaw berani bertindak begitu kerana Ah Kaw tahu bahawa Dr.Hamidah dah stim habis dan kini memang teringin sangat nak merasa batangnya. Tanpa banyak bercakap dan dengan rela Dr.Hamidah membuka sarung tangan getah yang dipakainya tadi dan memegang konek Ah Kaw lalu menjilat disekitar batangnya sebelum masukkan kedalam mulutnya dan mengulum konek Ah Kaw yang panjang dengan rakus sekali. Ah Kaw senyum melihat Dr.Hamidah mengalah lalu menghisap batangnya. Ini peluang Dr.Hamidah melepaskan geramnya kerana Dr.Hamidah sudah tidak tahan perhatikan batang Ah Kaw yang keras ini. Dr.Hamidah menghisap konek Ah Kaw seperti budak-budak hisap lollipop. Ah Kaw pula tidak melepaskan peluang keemasaan ini meramas tetek Dr.Hamidah yang besar dengan kedua tangannya yang kasar. Sesekali Ah Kaw mencubit putting susu Dr.Hamidah.

Dr.Hamidah yang sibuk menghisap batang Ah Kaw melayan nafsu seksnya sendiri, membiarkan Ah Kaw bebas meramas teteknya dan mencubit putting susunya sesuka hati. Imej & perlakuan Dr.Hamidah tidak lagi seperti sebagai seorang doktor atau sorang hajah yang alim bertudung labuh. Dr.Hamidah pula tidak melayan Ah Kaw sebagai pesakitnya. Dr.Hamidah semakin ghairah dan liar menghisap batang Ah Kaw, sampai Ah Kaw kene pegang muka Dr.Hamidah untuk memperlahankan hisapannya. Dr.Hamidah yang bertudung labuh sedang menghisap batang Ah Kaw kelihatan begitu seksi sekali. Ah Kaw semakin stim apabila memerhati Dr.Hamidah yang bertudung labuh menghisap batangnya, lalu melajukan tusukkan batangnya kedalam mulut Dr.Hamidah. Rasanya Ah Kaw sudah tidak tahan dan akan pancut bila-bila masa sahaja. Badan Ah Kaw mengejang, bergetar dan kaku. Akhirnya blusss.. satu pancutan kuat keluar di hujung konek. Pancutan laju hangat menerpa ke dalam mulut Dr.Hamidah. Diikuti oleh beberapa das lagi pancutan ke tetek Dr.Hamidah. Dada dan tetek Dr.Hamidah basah lencun dengan cairan pekat putih.

Ah Kaw terduduk di lantai. Lututnya lemah. Hujung koneknya basah dan kelihatan secara perlahan konek yang tadinya keras panjang mula lembek, mengecil dan memendek. Konek Ah Kaw terkulai layu tergantung di celah pahanya. Kepala konek menghilang ke dalam penutupnya.
Dr.Hamidah raba teteknya. Cairan pekat putih yang melekat di jari Dr.Hamidah cium dan jilat. Baunya seperti bau telur putih dan rasanya lemak berkrim. Dr.Hamidah ambil kertas tisu dan bersihkan ciaran benih Ah Kaw yang menempel di dadanya.

Keadaan bilik sunyi, Dr.Hamidah dan Ah Kaw berdiam diri untuk berehat seketika, dan hanya saling memerhati kemaluaan masing-masing. Selepas itu Ah Kaw memakai semula pakaiannya. Ah Kaw nampak keberatan meninggalkan bilik rawatan Dr.Hamidah, jadi Dr.Hamidah menanya kepadanya “Ah Kaw ada apa lagi ?” Ah Kaw diam seketika dan lepas itu meminta keizinan Dr.Hamidah untuk memegang dan meramas tetek besarnya sekali lagi. Kerana Dr.Hamidah belum puas lagi jadi tanpa fikir panjang Dr.Hamidah mengizinkan permintaan Ah Kaw kerana seluruh badan Dr.Hamidah telah Ah Kaw menikmati dan tidak ada apa lagi yang nak disorok dari Ah Kaw kecuali rambutnya sahaja yang masih dilindungi dari pandangan Ah Kaw oleh tudung labuhnya.

Ah Kaw mula meramas dan menguli kedua tetek besar Dr.Hamidah dengan kasar. Selepas seminit meramas tetek Dr.Hamidah, dengan pantas dan tanpa meminta keizinan Dr.Hamidah, Ah Kaw menundukkan mukanya lalu membenamkan mulutnya ke tetek Dr.Hamidah dan menghisapnya. Dr.Hamidah yang sememangnya stim dari tadi lagi tidak membantah lalu memeluk Ah Kaw lebih rapat lagi supaya senang Ah Kaw menghisap teteknya. Ah Kaw seperti bayi kelaparan susu. Selepas beberapa minit meramas dan menghisap tetek Dr.Hamidah, Ah Kaw terus membuka pakaiannya sendiri. Dr.Hamidah yang sememangnya bogel dari tadi dengan hanya mengenekan tudung labuhnya memerhati sahaja Ah Kaw bogel depannya sekali lagi, tetapi kali Ah Kaw lebih ganas dari tadi. Saat Ah Kaw melakukannya, mata Dr.Hamidah tak lepas dari memandang senjatanya. Fikiran dan mata Dr.Hamidah hanya bertumpu kepada batang Ah Kaw. Dr.Hamidah tidak dapat mengawal diri.

Dengan tidak membuang masa Dr.Hmaidah mengarahkan Ah Kaw duduk di pinggir katil. Kali ini dengan sengaja Dr.Hamidah meraih senjata Ah Kaw lalu dikocok-kocoknya dengan pelan tapi pasti. Sementara tangan Ah Kaw dibenarkan meraba apa saja yang ada di tubuh Dr.Hamidah. Setelah kocokannya seketika Dr.Hamidah pun menunduk dan mengarahkan zakar Ah Kaw ke dalam mulut dan menelankan seberapa banyak yang mungkin kedalam mulutnya. Dengan cermat Dr.Hamidah menjilat, menghisap dan mengulum zakar ajaib Ah Kaw. Zakar 7 inci panjang terpacak gagah. Wah… hampir saja Ah Kaw terpancut. Tapi Ah Kaw berusaha untuk menahannya sebab ingin mengetahui rasanya bila Dr.Hamidah terus membelai-belai zakarnya.

Dr.Hamidah terus mengulum batang Ah Kaw dengan begitu rakus seperti wanita kehausan batang lelaki. Selepas puas Dr.Hamidah mengulum, Dr.Hamidah menyuruh Ah Kaw untuk mengubah posisi. Kini Dr.Hamidah menyuruh Ah Kaw untuk menghisap klitorisnya, sedangkan Dr.Hamidah dengan penuh semangat terus menghisap dan menjilat-jilat zakarnya. Kerana tidak tahan menghadapi kuluman dan hisapan mulut Dr.Hamidah, Ah Kaw terpaksa melepaskan air maninya buat kali kedua dan Dr.Hamidah dapat rasa sesuatu yang seperti akan meledak kedalam mulutnya. Dan benar.. “Crot.. crot.. crot.. crot..” Dengan derasnya air mani Ah Kaw tertumpah di dalam mulut Dr.Hamidah.

Kali dengan sengaja, Dr.Hamidah tidak mau melepaskan zakar Ah Kaw dari mulutnya dan telan semua air mani Ah Kaw kedalam mulutnya. Dr.Hamidah jilat dan telan semua air mani dari batang Ah Kaw. Walaupun dah pancut Ah Kaw masih belum puas kerana belum lagi memantatkan Dr.Hamidah. Selepas itu Ah Kaw dengan ganas serbu tubuh Dr.Hamidah yang sudah berbaring menantang di atas katil. Pertama Ah Kaw cium kening Dr.Hamidah, lalu turun ke bibir, di situ Ah Kaw bagi French kiss dan Dr.Hamidah balas ciuman Ah Kaw. Kemudian ke pipi, leher hingga tetek Dr.Hamidah yang amat besar dan kenyal itu. Di sana sekali lagi Ah Kaw jilat dan uli puting Dr.Hamidah yang merah kecoklatan. Dr.Hamidah pun pejam celik. Kepala Dr.Hamidah bergerak ke kanan dan ke kiri. Kemudian kepala Ah Kaw bergerak menuju pangkal paha Dr.Hamidah yang gebu. Di sana kembali Ah Kaw jilati bibir vagina merah jambu dan klitorisnya. Vagina putih gebu bersih tanpa bulu menjadi sasaran lidah Ah Kaw. Klitoris sebesar kacang warna pink Ah Kaw jilat mesra. Ah Kaw julurkan lidahnya ke dalam vagina Dr.Hamidah sambil tangan kanan Ah Kaw terus meramas-ramas tetek giant Dr.Hamidah.

Setelah beberapa minit, ternyata zakar Ah Kaw sudah berdiri tegang dan mengeras semula. Tanpa menunggu diperintah lagi, Ah Kaw arahkan zakarnya ke liang kewanitaan Dr.Hamidah. Dengan sekali tekan, masuklah zakar Ah Kaw dengan mudah kedalam lubang nikmat Dr.Hamidah. Tanpa susah payah Ah Kaw terus memacu dan menggerakkan zakarnya agar benar-benar memuaskan dirinya. Saat itu Dr.Hamidah lupa segalanya, sorang doktor, hajah yang alim, menikmati tusukkan batang Ah Kaw. Dr.Hamidah menjerit kecik ditepi telinga Ah Kaw, “Ahhh…aahh… aahh… kuat lagi…. dalam lagi… ioohh.. sedapnya… batang you” “Ohhh Ah Kaw… jolok dalam lagi… sedap… aarrgghh… aahhh… !! “ Pastinya kesempatan ini tidak boleh dilepaskan. Sementara itu Dr.Hamidah terus saja menggoyang-goyangkan pantatnya dengan lembut. Dr.Hamidah coba untuk mengimbangi serangan Ah Kaw yang bertubi-tubi.
Sekitar lima belas minit berlalu. Dan tiba-tiba saja perasaan Ah Kaw seperti melayang. Ah Kaw Dan Dr.Hamidah merasakan kenikmatan luar biasa. “Aku ingin keluar, Dok… sebaiknya di dalam atau…” Tanya Ah Kaw di tengah-tengah kenikmatan yang dirasakan. “Di dalam saja Ah Kaw … biar nikmat…” jawab Dr.Hamidah seadanya. Rupa Dr.Hamidah pun akan mengalami orgasme. Dan benar, beberapa saat kemudian Dr.Hamidah orgasme. Kemaluan Ah Kaw seperti disembur cairan hangat dalam liang vagina Dr.Hamidah, banyak sungguh. Sementara itu sperma Ah Kaw pun dengan derasnya mengalir ke dalam liang vagina Dr.Hamidah. Dr.Hamidah pun akhirnya jatuh tertidur di atas tubuh Ah Kaw.

Selepas itu, Dr.Hamidah dan Ah Kaw berpakaian semula. Dr.Hamidah mengucapkan terima kasih pada Ah Kaw kerana telah memuaskan nafsu seksnya yang lama terbenam di dalam dirinya setelah bercerai satu tahun yang lalu. Ah Kaw senyum meninggalkan bilik rawatan Dr.Hamidah.

Dr.Hamidah mengenakan semula pakaiannya tanpa seluar dalam dan coli. Seluar dalam dan coli Dr.Hamidah telah diambil oleh Ah Kaw sebagai tanda kenangan.